Pengantar Awal

Belajar bukan merupakan sebuah istilah yang baru di dengar. Melainkan, kata belajar tentunya sudah dimengerti disetiap elemen masyarakat. Ini terjadi secara sendirinya. Karena pada dasarnya, setiap manusia selama hidupnya akan terus belajar.

Hal ini akan lebih terlihat dalam kaitan kehidupan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Bagaimana dalam urusan akademisi? Apakah makna belajar itu sendiri dapat dimaknai dengan gaya bahasa pribadi semata? Tentu hal yang sederhana ini menjadi pokok perhatian serius dalam lingkup akademisi.

Apa maksud dari belajar itu?

Belajar itu adalah ketika kita mencari suatu kebenaran atau hal yang tidak kita ketahui.

Dalam lingkup akademisi, tentu diperlukan semacam referensi yang jelas akan sebuah statement yang diutarakan. Hal ini benar-benar dianggap penting. Sebab, mereka dengan dedikasi ilmu yang tinggi, tentu perlu memandang positif terhadap teoritis yang mereka pelajari.

Pengertian Belajar Dalam Pendidikan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kata belajar ini memang benar-benar sebuah kata yang sudah akrab dalam setiap lapisan elemen masyarakat. Bahkan, para pakar-pakar psikologi sudah banyak lebih dulu mengungkapkan tentang pengertian belajar ini.

Masing-masing diantara mereka pastinya memiliki pandangan atau jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Tetapi, tentu saja keseluruhan jawaban mereka itu dapat dipertanggun jawabkan.

Djamarah (2011: 13) mengemukakan pendapat bahwa belajar itu adalah suatu kegiatan yang dilakukan dan dalam kegiatan tersebut melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Raga, itu identik dengan gerak. Sedangkan jiwa lebih mengarah pada perasaan atau hati.

Penjelasan ini dirasa cukup menarik. Kedua unsur dalam diri manusia itu harus dikaitkan dalam kegiatan belajar itu sendiri. Gerak yang dilakukan raga untuk belajar sepantasnya sejalan dengan jiwa untuk mendapatkan sebuah perubahan dalam diri manusia.

pengertian-belajar

Oleh karena itu, perubahan yang terhadi dari kegiatan belajar bukanlah perubahan fisik, seperti bertambahnya ukuran berat badan, bertambahnya ukuran tinggi badan, bertambahnya otot yang semakin kekar, pembengkakan akibat gigitan serangga, dan lain sebagainya.

Tetapi, perubahan atas suatu kegiatan belajar adalah perubahan jiwa dengan masuknya kesan-kesan baru (materi pelajaran). Harapan yang lebih jauh adalah bahwa dengan perubahan jiwa yang ada, akan mempengaruhi tingkah laku manusia itu sendiri.

Lebih lanjut, Sardiman (2011: 20) menguraikan beberapa pengertian belajar, yakni:
  1. Learning is shown by a change in behavior as a result of experience (belajar ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman).
  2. Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction (Belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti arahan).
  3. Learning is a change in performance as a result of practice (Belajar adalah perubahan dalam kinerja sebagai hasil dari latihan).

Uraian di atas, disimpulkan oleh Sardiman bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan seperti membaca, mendengarkan, mengikuti, atau yang lainnya.

Hal ini, akan lebih baik bila si pembelajar itu langsung mengalami atau melakukannya sendiri, jadi tidak bersifat verbalistik.

Belajar memang akan bernilai bilamana si pembelajar itu sendiri merasakan atau melakukan apa yang ia pelajari. Melalui ini, si pembelajar akan mendapatkan sebuah pengalaman berarti yang membelajarkannya dari yang tidak tahu menjadi tahu akan sesuatu hal baru dalam kehidupannya.

Dalam kaitan ini, Sudjana (2009: 2) mengungkapkan bahwa kegiatan proses belajar itu include di dalam 3 (tiga) unsur proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini, akan terlihat dalam diagram berikut ini:

diagram-pengertian-belajar

Diagram di atas memberikan penjelasan bahwa belajar termasuk dalam unsur kegiatan belajar mengajar. Yang menjadi titik fokus disini adalah bahwa belajar itu dapat diartikan dengan pengalaman belajar.

Penjelasan di ats membuat kesimpulan bahwa pengalaman adalah hal yang baik untuk belajar atau membelajarkan. Ini terlihat masuk akal dan relevan dengan pendapat sebelumnya, yang mengatakan bahwa belajar akan bernilai bila si pembelajar itu melakukannya sediri (pengalaman).

Referensi

  • Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. h. 20.
  • Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. h. 13.
  • Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. h. 2.