Segala hal memang membutuhkan evaluasi. Begitu juga halnya dengan pendidikan. Setiap proses yang dilewati, apapun itu, tentunya membutuhkan sebuah evaluasi.

Karena pada dasarnya, setiap orang ingin berubah ke arah yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Saya pernah bertemu dan mendengar pertanyaan semacam ini dari para peserta didik di tempat saya mengabdikan ilmu saya. Bentuk pertanyaan itu kira-kira seperti ini:

Apasih yang dimaksud dengan evaluasi itu?

Evaluasi itu semacam kegiatan menilai, atau mengukur. Contoh semacam ujian.

Menilai dan mengukur? Sepertinya, keduanya itu berbeda. Mengapa digolongkan sebagai evaluasi?

Benar. Ikuti penjelasan ini sampai akhir.

Pengukuran

Pengukuran dapat diartikan sebagai menentukan suatu benda atau yang lainnya yang bersifat kuantitatif. Pengukuran didasarkan pada panjang atau pendeknya sesuatu (seperti contoh 1 di atas), berat atau ringan.

Alat ukur yang digunakan untuk melakukan pengukuran itu bermacam -macam, seperti untuk mengukur panjang membutuhkan alat ukur penggaris atau meteran. Untuk mengukur berat atau ringan membutuhkan alat ukur semacam timbangan, dan lain sebagainya.

Penilaian

Penilaian merupakan lanjutan dari kegiatan pengukuran. Setelah mengukur, maka selanjutnya yang dilakukan adalah penilaian.

Jadi, kegiatan menilai adalah pengambilan suatu keputusan berdasarkan ukuran tertentu (baik atau buruk). Penilaian bersifat kualitatif.

Evaluasi

Memang pada dasarnya, setiap insan manusia itu senantiasa melakukan evaluasi bagi dirinya sendiri melalui segala hal yang dilewatinya setiap hari.

Mengapa demikian? Karena, setiap manusia itu senantiasa berbenah dan berubah. Jadi, perubahan itu tentunya terjadi melalui evlauasi sederhana yang dilakukan dirinya.

Sebagai contoh, bagaimana mungkin orang yang sudah pernah terjatuh dari lantai, ingin mengulanginya kembali? Tentu, ia mencari solusi agar hal itu tidak terulang lagi.

Dari sini, dapat terlihat bahwa pada dasarnya, baik disadari atau tidak, manusia itu senantiasa melakukan evaluasi. Hanya saja, hal itu tidak dilakukan secara terstruktur dan terdokumen dengan baik.

Ada 2 (dua) term yang sering dikaitkan dalam evaluasi, yaitu evaluasi, pengukuran, dan penliaian. Banyak orang yang menganggap kedua term itu memiliki pengertian yang serupa.

pengertian-evaluasi

Hal ini bergantun pada personalnya itu sendiri, memilih mana kata yang cocok untuk diucapkan dalam kondisi dan keadaan tertentu, dan itu tidak disalahkan.

Namun, saya akan mencoba memaparkan tentang persamaan dan perbedaan kedua term tersebut. Dibawah ini, beberapa contoh yang dapat menggambarkan perbedaan kedua term tersebut.

Contoh 1:
Seorang memiliki dua buah penghapus yang tidak sama panjangnya. Sementara kita, diberikan pilihan untuk mengambil salah satu darinya.

Umumnya, kita akan memilih penghapus yang panjang. Pemilihan penghapus yang pendek, biasanya dikarenakan suatu alasan yang sangat khusus.

Contoh 2:
Pasar merupakan tempat dimana bertemunya antara penjual dan pembeli. Diantara mereka, adalah barang yang diperjual berlikan.

Mangga misalnya. Seseorang akan memilih mangga yang ukurannya lebih besar, berwarna kekuningan, bentuknya sedikit ranum. Ini terjadi karena berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Seseorang mempertimbangkan akan sesuatu yang diberlinya. Mangga yang masih hijau dan berbentuk keras, biasanya masih mentah dan rasanya asam. Sementara yang berwarna kekuningan dan bentuknya ranum, biasanya manis rasanya.

Dari contoh di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum menentukan suatu pilihan, terlebih dahulu kita melakukan pengukuran. Pada contoh 1 mmisalnya, kita memilih penghapus yang panjang. Sementara pada contoh 2, kita memilih mangga yang berwarna kekuningan dan ranum.

Untuk dapat menentukan penilaian, kita perlu melakukan pengukuran dulu. Pada Contoh 1, tentu kita akan mengukur mana penghapus yang panjang dan mana penghapus yang pendek.

Kita perlu mengukur kedua penghapus itu terlebih dahulu, sehingga menyatakan mana penghapus yang panjang dan mana penghapus yang pendek. Misalnya, dalam hal ini dapat mengukurnya melalui penggaris. Dari sini, tinggal menentukan pilihan saja penghapus yang ingin kita ambil.

Untuk contoh yang kedua (2), persoalan pemilihan mangga saat dibeli. Dalam hal ini, berbeda dengan contoh 1 yang dijelaskan sebelumnya. Kita tidak dapat mengukur manisnya sebuah mangga hanya dengan dengan penggaris misalnya.

Dalam hal ini, untuk mengukur manis atau tidaknya mangga itu, kita perlu melihat kekuningannya, ranum atau kerasnya mangga itu, dst. Inilah sebagai pengganti "penggaris" untuk mengukur manis atau tidaknya sebuah mangga.

Adapun hal ini, didapatkan berdasarkan pengalaman pembeli dari waktu ke waktu sehingga dapat menentukan bahwa mangga yang berwarna kekuningan itu manis, atau mangga yang bentuknya sedikit ranum itu manis.

Dari contoh di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum menentukan barang mana yang akan dipilih atau diambil, itulah yang dinamakan melakukan evaluasi, yaitu mengukur dan menilai.